IPTEK terdiri dari dua aspek yang bersinergi,yaitu ilmu pengetahuan dan teknnologi. Ilmu pengetahuan tanpa ada teknologi akan sulit diterapkan, sebaliknya teknologi tanpa pengetahuan adalah mubazir. Ilmu pengetahuan bukan selalu tentang sains tetapi juga mengenai sikap,prilaku manusia dan manajemen yang baik untuk mendukung teknologi agar menciptakan efek yang nyata dalam kehidupan.
Sesuai dengan judul diatas, saya ingin menyampaikan hasil pemikiran dan perasaan yang bersumber dari keprihatinan saya terhadap kondisi ibukota Republik Indonesia yaitu Jakarta yang dengan gegap gempitanya menyandang status sebagai kota metropolitan yang terbelenggu penjajahan metropolutan. Jakarta sebagai ibukota belum bisa memberikan rasa nyaman bagi warganya seperti seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Diperlukan suatu upaya bersama sebagai ujung tombak untuk menyelamatkan kota metropolitan kita dari metropolutan yaitu dengan perpaduan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau yang kita kenal dengan IPTEK.
Salah satu penyebab metropolutan adalah sampah. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan urbanisasi menyebabkan meningkatnya volume sampah dari tahun ke tahun namun belum ada solusi untuk menyelesaikan ataupun mengurangi masalah yang disebabkan oleh sampah. Masalah yang disebabkan oleh sampah antara lain :
1. Sulitnya mendapatkan lahan TPAS yang umumnya berada di luar kota, karena penolakan masyarakat sekitar menyebabkan gunung sampah di satu tempat yang berpotensi menimbulkan longsor.
2. Proses Pembusukan Sampah yang menghasilkan Leachate yaitu cairan sangat toksik, yang mengandung unsur terlarut dan tersuspensi, bau dan berwarna kehitaman.
3. Pencemaran Sumber Air dan Lingkungan
4. Sampah Sebagai Sarang Bibit Penyakit
Setelah memahami dampak yang ditimbulkan oleh sampah,tentunya kita ingin ibukota kita ini menjadi seperti seorang miss universe yang cantik,sehat dan cerdas. Di era teknologi yang serba modern ini tentu banyak cara untuk membantu si cantik Jakarta merawat diri seperti di salon. Kita sebut saja IPTEK, make up dan perawatan kecantikan bagi sang ibu Jakarta.
Sebagai bangsa yang sedang berkembang, tidak ada salahnya belajar dari bangsa lain yang lebih maju dalam pengelolaan sampah. Berikut ini gambaran pengolahan sampah di negara maju :
1. Jerman
Konsep pengolahan sampah di jerman adalah waste avoidance, waste recovery dan environmentally compatible disposal. Waste avoidance adalah menghindari produksi limbah.Hasil buangan tersebut harus dapat didaur ulang atau diubah menjadi energi (waste recovery). Tempat pembuangan akhir untuk sampah yang sudah diolah terlebih dulu sehingga tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan (environmentally compatible disposal).
2. Swedia
Konsep pengolahan sampah Swedia sampah-sampah diubah menjadi energi (Waste to Energy atau WTE). Untuk kertas bekas dan plastik yang recyclable akan didaur ulang sedangkan yang sudah tidak bisa didaur ulang (non recyclable) akan dibakar di incinerator. Incinerator akan menghasilkan panas yang kemudian disalurkan melalui pipa ke wilayah perumahan dan gedung komersil. Sedangkan sampah yang tidak memungkinkan untuk dibakar atau didaur ulang bisa dibuang ke landfill.
3. Jepang
Konsep pengolahan sampah Jepang adalah pengelompokan sampah sesuai jenisnya dan dimasukkan dalam plastik khusus. Lalu sampah dikumpulkan ke tempat pengumpul sampah yang ada di luar rumah sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk kemudian diambil oleh petugas. Setelah diambil, sampah kemudian diproses dan diolah oleh pemerintah daerah setempat. Untuk jenis sampah bakar akan dimusnahkan dengan cara dibakar dalam incinerator plant. Hasil dari pembakaran yang berupa slag dan panas akan dimanfaatkan kembali. Slag atau padatan seperti tanah nantinya akan dipakai sebagai campuran dalam cone-block untuk lapisan jalan. Sedangkan panas yang dihasilkan akan digunakan sebagai pembangkit listrik incinerator plant. Jika pada sampah terdapat cairan, maka cairan tersebut akan disuling terlebih dulu sebelum dialirkan ke sungai. Sampah plastik nantinya akan dibawa ke tempat pemilahan sampah plastik, untuk selanjutnya akan dipadatkan membentuk kotak besar. Sebagian dikirim ke pabrik sebagai campuran bahan pembuat baja, sebagian lagi dikirim ke pabrik pembuat marka jalan.
Dari ke tiga konsep pengolahan sampah negara maju di atas, sebenarnya ada beberapa hal mudah yang bisa kita terapkan di jakarta, yaitu :
1. Pengelompokan sampah
2. Waste avoidance
3. Waste to Energy
4. Waste recovery
5. Environmentally compatible disposal
Dari pembahasan di atas, saya ingin memberikan saran dengan mengadopsi konsep-konsep tersebut sehingga menjadi sebuah IPTEK yang menjadi ujung tombak solusi permasalahan di bidang pekerjaan umum,khususnya di bidang lingkungan dan lebih khusus di bidang “waste war” (perang dengan sampah),
”SAUDARA-SAUDARAKU,KITA SEDANG BERPERANG DENGAN SAMPAH!!!!SADARLAH!KITA SEDANG DIJAJAH OLEH SAMPAH!!”.
Pada masa penjajahan, Indonesia terkenal dengan strategi perang gerilya yang terbukti ampuh mengusir penjajah,untuk itu saya namakan konsep pengelolaan sampah ini dengan nama “GERILYA”.
Konsep Gerilya yang dimaksud adalah pengelolaan sampah secara desentralisasi,dimulai dari kelompok masyarakat yang paling kecil yaitu keluarga kemudian RT (rukun tetangga),RW (rukun warga), Kelurahan, Kecamatan, dan Kotamadya dengan teknologi paling ampuh dan praktis yaitu “Tempat Sampah” dan tempat penampungan sampah. Tempat sampah harus diberi keterangan dengan jelas mengenai pengelompokan sampah,bila perlu diberi contoh gambar di atasnya. Selama ini tempat sampah yang ada hanya dibedakan warna dan bertuliskan sampah organik dan non organik, sedangkan masih ada masyarakat yang pendidikannya belum memadai untuk memahami arti tulisan tersebut. Bak penampungan sampah adalah bak yang di cor dan dilapisi waterproofing dan tahan panas untuk melakukan pembakaran sampah. Bak penampungan harus berpenutup dan diberi lubang asap (seperti knalpot) yang diberi saringan seperti yang terdapat pada masker. Di sekitar penampungan sampah harus ditanami pohon-pohon untuk menyerap polusi udara hasil pembakaran sampah non daur ulang.
1. Pengelolaan Sampah Keluarga
Keluarga harus menerapkan ilmu pengetahuan yaitu kesadaran dan tekad yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang bersih,sehat dan indah dan menyediakan tempat sampah yang memadai dengan pengelompokan jenis sampah. Tingkat kesadaran yang rendah memang kendala utama strategi ini,namun dengan penyuluhan dan himbauan melalui iklan di setiap tempat yang mudah lihat bisa mensugesti atau menggerakan setiap orang menjalankan misi memerdekakan kota metropolitan ini dari penyebab metropolutan yaitu sampah. Selanjutnya bisa diterapkan waste avoidance yaitu dengan mengurangi penggunaan plastik. Cara untuk mengurangi penggunaan plastik diantaranya adalah membawa wadah atau tas belanja yang terbuat dari wadah yang bisa digunakan berulang kali. Setiap keluarga harus punya strategi atau rencana daur ulang sampah (waste recovery) sebisa mungkin hingga menyisakan sesedikit mungkin sampah yang tidak dapat di daur ulang yang akhirnya di buang ke penampungan sampah rukun tetangga.
![]() |
Contoh tas belanja |
2. Pengelolaan Sampah Rukun Tetangga - Kelurahan
Setiap RT (rukun tetangga) harus menyediakan tempat sampah di lingkungannya, kurang lebih setiap setiap jalan 100 m ada 1 tempat sampah yang dibedakan menurut jenis sampah untuk mengakomodir kegiatan masyarakat yang menghasilkan sampah selama berada di lingkungan RT. Setiap RT juga harus menyediakan tempat pembuangan akhir RT untuk menampung sampah dari setiap keluarga. Teknologi tidak dapat berjalan dengan efektif jika tidak di bantu kerja manusia, untuk menyerap tenaga kerja,setiap RT harus mempunyai petugas kebersihan untuk mengambil sampah keluarga ke penampungan sampah RT. Perbandingan petugas kebersihan kira-kira 1 : 15 yaitu 1 petugas untuk melayani 15 keluarga. Petugas di biayai oleh iuran kebersihan warga. Setiap RT juga harus menggerakan organisasi masyarakat seperti ibu-ibu arisan,karang taruna,dan kerja bakti untuk membuat hal-hal kreatif untuk pengelolaan sampah (waste recovery). Adakan kegiatan yang bisa mendorong warga bersih-bersih seperti lomba kebersihan. Sampah sisa non daur ulang kemudian diangkut ke penampungan sampah RW dan dilakukan hal yang sama seperti pengelolaan sampah RT terus menerus sampai ke penampungan sampah kecamatan. Mobilisasi sampah dari RW ke Kelurahan menggunakan motor yang ada baknya dan dimodifikasi agar dapat mengangkut sampah tanpa tercecer.
3. Pengelolaan sampah Kecamatan
Pengelolaan sampah kecamatan berupa tempat penampungan akhir sementara,yaitu tiga buah bak dengan tembok cor yang tahan api,tahan asam (disesuaikan semennya) dan waterproof. Masing-masing bak menampung sampah sesuai jenisnya,hal ini mudah jika pengelompokan sampah dilakukan dari pengelolaan sampah keluarga sampai dengan kelurahan. Sampah yang berada di penampungan akhir sementara diolah dengan teknologi yang lebih modern. Untuk sampah plastik dan kaleng dapat dilakukan pengepressan untuk membentuk sampah menjadi kubus-kubus. Sampah beling bisa juga di press untuk menjadi serbuk kaca dan sebagainya. Sampah dari pengelolaan sampah kecamatan dijemput oleh truk-truk sampah dinas kebersihan menuju pengelolaan sampah kota madya.
4. Pengelolaan sampah Kota Madya

Pada intinya, apabila sampah sudah dikelola sejak dari tangan pertama (keluarga), jumlahnya tidak akan terlalu banyak hingga menjadi gunungan penyakit yang bau dan menimbulkan ketidak nyamanan. Semakin banyak proses pemikiran di setiap tempat pengelolaan sampah,maka akan semakin banyak ide daur ulang sampah dan semakin sedikit sampah sisa non daur ulang yang dibuang ke TPA atau pabrik sampah. Biaya pembuatan pabrik sampah memang mahal,tapi manfaatnya akan bertahan lama dan pada saatnya dapat menjadi BUMD unggulan DKI Jakarta. Bila melihat data komposisi sampah non organik di Jakarta pada 2007, jumlah sampah non organik 44,63% dan semuanya bisa di daur ulang,artinya tiap tahun Jakarta bisa mengurangi sampah sekitar 44,63 persen dengan adanya pabrik sampah. Apabila sampah dapat diatasi dan dikendalikan, permasalahan PU akan semakin berkurang salah satunya adalah masalah banjir. Indonesia akan bergaya di mata dunia dengan sang ibu cantik bagaikan miss Universe, yaitu kota metropolitan yang bebas dari metropolutan,si cantik yang bebas dari jerawat,debu,dan komedo.
Referensi :
http://litbang.pu.go.id/harmonisasi-sampah-perkotaan-sebagai-upaya-perbaikan-kesehatan-masyarakat-kualitas-sumber-air-lingkungan-dan-ekonomi.balitbang.pu.go.id dan beberapa sumber lainnya
No comments:
Post a Comment
Silahkan meninggalkan catatan...